Pilkada Yang Bermartabat

Jumat, 23 Februari 2018 10:54 WITA Reporter :
Pilkada Yang Bermartabat

MAKASSARMETRO, OPINI– Pilkada sebagai kontestasi politik ibaratnya sebuah pertandingan sepak bola. Adu strategi dan pola pergerakan. Fokus pada penyerangan atau pertahanan. Apapun pola yang dimainkan tujuannya adalah untuk mencapai kemenangan.

Namun dalam pertandingan sepak bola sangat dijunjung tinggi yang namanya “fair play” dan sportifitas.
Seyogyanya dalam pilkada harusnya demikian juga.

Selain itu, para peserta calon kepala dan wakil kepala daerah yang akan ikut bersaing dalam penyelenggaraan pesta demokrasi pada Pilkada serentak 2018 tahun ini, haruslah bersaing secara ‘sehat’.

Begitu juga, bagi tim pemenangan masing-masing pasangan calon, dan simpatisannya, hendaknya mempertontonkan cara yg sehat dalam meraih simpati masyarakat, baik pada saat pelaksanaan kampanye maupun pada saat hari H nya nanti.

Sungguh miris rasanya jika membuka media sosial, baik itu fb, instagram, twitter dll, kita disuguhkan suasana persaingan yang tidak sehat, saling menghujat, mencaci dan hal-hal negatif lainnya.

Coba simak di beranda ataupun di grup-grup pilkada, khususnya pilkada Makassar bisa jadi karena hanya ada 2 (dua) pasangan calon walikota/wakil walikota alias head to head maka teori dan strategi menyerang – bertahan yang terjadi.

Mungkin juga karena salah satu kontestannya adalah petahana alias juara bertahan, maka serangan-serangan sangat gencar diterima. Maka benarlah adagium mempertahankan jauh lebih susah dari meraihnya.

Namun dalam strategi sepak bola klub-klub hebat juga banyak yang menerapkan pola bertahan, karena meyakini pola pertahanan yang baik dan kuat justru menjadi serangan yang mematikan.

Toh hendaknya antara satu pasangan calon dengan pasangan lainnya, antara satu pendukung dengan pendukung lainnya, tidak saling menjelek-jelekan atau berusaha saling menjatuhkan.

Tetapi bersaing secara sehat dengan berkampanye yang sifatnya mengajak masyarakat untuk peduli terhadap daerah. Yakni tidak menggunakan money politik, kekerasan, intimidasi dan sebagainya, tetapi hendaknya menyampaikan informasi yang objektif, benar, bahasa yang sopan santun dan bermartabat.

Setidak-tidaknya saat berkampanye yang disampaikan adalah seputar visi dan misinya untuk memimpin lima tahun kedepan, nanti masyarakatlah yang menilai, mana yang menurut mereka yang sesuai dengan hati nurani.

Apalagi janganlah sampai membawa-bawa SARA pada saat kampanye, karena, hal itu akan berdampak negatif terhadap kondusifitas daerah yang selama ini dalam keadaan kondusif.
Mari ciptakan pilkada yang damai dan aman sebagai proses demokrasi, sehingga nantinya menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Penulis : Dr. Sakka Pati, S.H. M.H

Berikan Komentar
Komentar Pembaca