somberena parlementa

Perang Opini Cebong-Kampret Masih Panas, Psikolog Ungkap Dapat Berefek Pada Kejiwaan

Minggu, 21 April 2019 17:00 WITA Reporter : Anki
Perang Opini Cebong-Kampret Masih Panas, Psikolog Ungkap Dapat Berefek Pada Kejiwaan

MAKASSARMETRO– Perang opini dan pernyataan masih terus berlangsung panas antara kubu pasangan calon (paslon) 01 maupun pasangan 02.

Berbekal hasil hitung cepat, keduanya sama-sama mengklaim kemenangan yang berisiko menimbulkan keributan antar pendukung bahkan lebih parah dapat menyebabkan kegaduhan luar biasa.

Berbagai pihak lantas menyerukan perdamaian atau rekonsiliasi antara cebong dan kampret sebutan bagi pendukung kubu 01 dan 02.

Seruan ini mendapat tanggapan positif psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, meski pesimistis himbauan tersebut harapan dapat dilaksanakan.

“Imbauan tersebut bagus dilakukan tapi saya ragu efektivitasnya. Siapa peduli dengan perasaan pihak yang baru sebatas diperkirakan kalah? No way. Kedua kubu juga sudah sempat melakukan praktik agitasi,” kata Reza pada dikutip dari Health Info, Minggu (21/4/2019).

Agitasi adalah praktik yang sangat biasa dalam dunia politik dengan menghasut banyak orang untuk melakukan tindakan tertentu.

Menurut Reza, kubu 01 sempat menyatakan, Sekarang saya (kita) lawan saat kampanye. Sementara kubu 02 menunjukkan ekspresi dengan menggebrak meja saat kalimat tak lagi bisa mengungkapkan perasaan hati.

Meski rekonsiliasi mungkin belum terjadi dalam waktu dekat, namun masyarakat bisa menekan efek perseteruan antar pendukung kedua kubu. Masyarakat juga tak perlu terseret arus saling klaim kemenangan dari paslon 01 dan 02.

Reza menyarankan jauh-jauh dari media sosial atau konten lain seputar pemilu. Segala materi seputar Pemilihan Umum (Pemilu) yang bisa memicu munculnya rasa cemas harus dihindari. Hal serupa juga harus diterapkan pada anak-anak yang juga berisiko mengalami kecemasan usai pemilu.

“Jika kita lihat pemilu di AS pada 2016, tensi psikolog antar kubu justru terus naik apalagi dengan tingkah Presiden terpilih yang memang provokatif. Jika ingin menekan efek atau tak ikut arus lebih baik menjauh dari media sosial, supaya tidak lekas merasa cemas dan gelisah akibat perseteruan kedua kubu,” ujar Reza.

Topik berita Terkait:
  1. Nasional
Berikan Komentar
Komentar Pembaca