somberena parlementa

Forum Dewan Guru Besar Indonesia di Makassar Bahas Karakter Bangsa

Selasa, 06 Agustus 2019 20:19 WITA Reporter : Widya
Forum Dewan Guru Besar Indonesia di Makassar Bahas Karakter Bangsa

MAKASSARMETRO – Musyawarah Nasional II dan Seminar Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) hari kedua, Selasa (6/8/2019) membahas isu-isu pendidikan tinggi dan pendidikan karakter. Acara yang dimulai Pukul 09.00 Wita diawali dengan pengarahan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas, yang juga merupakan Menpan RB, Drs Syafruddin.

Forum yang membahas mengenai karakter bangsa menghadirkan narasumber Prof Deddy T Tikson, Ph.D (Unhas), Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA (Rektor Unhas), dan Dr Ir Apolo Safanpo, ST, MT (Rektor Universitas Cenderawasih, Papua).

Sesi keynote dipandu Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, Prof dr Budu, PhD, SpM(K), MMed.Ed.

Dalam presentasinya, para nara sumber memaparkan persoalan yang dihadapi di Tanah Air serta solusi alternatif yang harus dan perlu segera diambil.

Deddy T. Tikson, yang merupakan guru besar dalam bidang Administrasi Publik menyoroti pengambilan keputusan di pemerintahan yang seharusnya melibatkan peran akademisi dan kampus.

“Guru besar seharusnya tidak tinggal diam. Kita dapat selalu memberikan kontribusi pemikiran, baik diminta maupun tidak diminta. Caranya bisa dengan memberikan press rilis, sehingga pemikiran dan gagasan profesor dapat dipublikasi oleh media massa,” kata Deddy.

Deddy menganggap, dalam kaitannya dengan pembangunan karakter, persoalan yang harus diselesaikan dewasa ini adalah kebiasaan cheating (curang) yang ada di berbagai level.

“Kita harus akui bahwa kebiasan untuk bertindak curang ini masih sering kita temui, mulai dari atas sampai ke masyarakat bawah. Untuk membangun karakter, kita harus mulai dari komitmen untuk menghapuskan kebiasaan ini,” tegas Deddy.

Sementara itu, Rektor Dwia Aries yang menyampaikan presentasi bertema “Karakter Bangsa untuk Indonesia 2045” membahas tentang bagaimana strategi mempersiapkan generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, yang bertepatan dengan HUT ke-100 RI.

“Kita saat ini menghadapi masalah symptom interaksi dalam keluarga dan symptom interaksi manusia dan mesin yang menjadi semakin persoalan. Sering kita lihat, keluarga berkumpul tapi tidak lagi berinteraksi. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri melalui perangkat digitalnya,” kata Dwia.

Guru besar sosiologi yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) ini selanjutnya menawarkan perlunya pergeseran masyarakat (shifting society) dan pergeseran kekuasaan (power shifting).

“Pada tataran society, kita harus beralih dari ‘me centered society’ menuju ‘we centered society’. Masyarakat yang individualistik beralih menjadi masyarakat yang komunal, yang selalu memposisikan diri sebagai bagian dari kolektivitas. Sementara dalam kaitannya dengan pergeseran budaya, power shifting menuntut kita untuk melakukan yang disebut kultur digital yang humanis,” kata Dwia.

Pembicara ketiga, yaitu Dr Ir Apolo Safanpo, ST, MT, menyampaikan pemikirannya terkait kesenjangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang terlalu mengedepankan kompetensi seharusnya mulai berubah untuk lebih menekankan pembentukan karakter.

“Ini sebenarnya ada dalam model pendidikan lembaga agama, dimana pendidikan itu mengutamakan karakter, yaitu sikap jujur, keadilan, tanggung jawa, dan lain-lain. Keterampilan dan skill memang penting, namun kurikulum kita perlu mengadopsi ruang untuk terbentuknya karakter,” kata Apolo.

Berikan Komentar
Komentar Pembaca