somberena parlementa

Smart City Index 2019: Makassar Kota Terpintar di Indonesia, Jakarta Nomor Dua

Sabtu, 05 Oktober 2019 19:58 WITA Reporter : Helmy
Smart City Index 2019: Makassar Kota Terpintar di Indonesia, Jakarta Nomor Dua

MAKASSARMETRO – IMD World Competitiveness Center’s Smart City Observatory bekerja sama dengan Singapore University of Technology and Design (SUTD) merilis Smart City Index 2019 untuk pertama kali kalinya.

Sebelum peringkatan dirilis, kota-kota yang telah menerapkan smart city tersebut diriset terlebih dahulu. Penekanan penilaian didasarkan pada pemanfaatan infrastruktur teknologi dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pelayanan publik.

Hasilnya, peringkat pertama ditempati Kota Singapura. Disusul Zurich, Oslo, Genewa, Kopenhagen, Auckland, Taipei, Helsinki, Bilbao, dan Dusseldorf. Kota-kota inilah 10 besar kota pintar di dunia.

Sedangkan Makassar menjadi kota terpintar di Indonesia. Dalam indeks kota pintar atau smart city Index tahun 2019 hanya ada dua kota dari Indonesia, yakni Makassar dan Jakarta.

Dalam SCI yang dikeluarkan IMD dan Singapore University Technology and Design tersebut, Makassar berada di peringkat 80. Sedangkan Jakarta di peringkat 81 dari 102 negara yang menjadi lokasi riset.

Makassar mengokohkan diri masuk dalam jajaran kota-kota dunia lainnya melalui smart city. Hanya saja, konsep kota pintar yang diusung Makassar menjadikannya istimewa, Sombere’ and Smart City.

Pencapaian ini tidak bisa dilepaskan dari Moh. Ramdhan “Danny” Pomanto yang merupakan penggagas dan desainer kota pintar di Kota Makassar.

Saat menjabat sebagai Walikota Makassar (2014-2019), Danny melakukan banyak hal agar sistem kota cerdas diterapkan di Makassar sebagai alat untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

SCI ini merupakan satu-satunya indeks global yang unik berfokus pada bagaimana warga negara merasakan ruang lingkup dan dampak dari upaya untuk membuat kota mereka ‘pintar’ dengan menyeimbangkan aspek ekonomi dan teknologi dengan dimensi manusiawi.

Presiden Smart City Observatory IMD di IMD World Competitiveness Center, Bruno Lanvin mengatakan predikat kota pintar menjadi magnet bagi investasi, bakat dan perdagangan.

Secara umum, penilaian IMD didasarkan pada bagaimana masyarakat bisa menerima dan merasakan dampak dari Smart City dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, teknologi dan manusia. Dan yang menjadi poin lebih yakni menjawab kebutuhan warganya swcara keberlanjutan.

“Namun, sebagian besar upaya dan energi yang dihabiskan tampaknya terputus dari aspirasi warga jangka panjang. Tanpa dukungan dan keterlibatan warga, kota-kota pintar mungkin tidak berkelanjutan,” kata Bruno Lanvin dikutip dari CNBC.

Topik berita Terkait:
  1. Kota Makassar
  2. Smart City Index 2019
Berikan Komentar
Komentar Pembaca