somberena parlementa

Dokter Spesialis Jiwa Jelaskan Penyebab Astis Korea Alami Depresi

Rabu, 16 Oktober 2019 12:17 WITA Reporter : Makassarmetro
Dokter Spesialis Jiwa Jelaskan Penyebab Astis Korea Alami Depresi

MAKASSARMETRO – Sederat artis terkenal asal Korea mengalami depresi hingga memilih memutuskan bunuh diri. Seperti yang baru-baru ini terjadi, artis peran sekaligus penyanyi Choi Jin-ri atau lebih dikenal dengan Sulli ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di rumahnya di Seongnam, Seol, Senin lalu.

Sama halnya Sulli, Juni 2019, Jeon Mi Seon juga ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri.

Masih pada kasus yang sama, pada 2017 silam, vokalis Linkin Park Chester Bennington juga ditemukan meninggal dunia setelah gangung diri.

Banyaknya artis terkenal yang bunuh diri membuat orang bertanya-tanya penyebab depresi hingga memilih mengakhiri hidup sendiri.

Dilansir dari Kompas.com, dokter spesialis kesehatan jiwa dr. Dharmawan AP, SpKJ, mengatakan, banyak selebriti biasanya belum siap untuk hidup dalam ketenaran dan hidup dalam kejaran target oleh agensi tempatnya bekerja.

“Mereka jadi kecapaian. Jadwalnya padat. Kemana-mana harus manggung. Hidupnya serasa enggak ada yang lain cuma dijadikan mesin pencari uang,” kata Dharmawan.

Kondisi semacam ini, kata Dharmawan biasanya terjadi saat seseorang berada di usia kritis atau di atas usia 20 tahun.

Menurut teori perkembangan psikososial Erik H. Erikson, di usia 20 hingga 30 tahunan, seseorang berada dalam tahap siap untuk membangun hubungan yang dekat dan berkomitmen dengan orang lain.

Jika seseorang gagal melewati tahapan ini atau memiliki sedikit kepekaan diri, maka akan timbul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang lain.

Jika seseorang gagal melewati tahapan ini atau memiliki sedikit kepekaan diri, maka akan timbul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang lain. Akibatnya, orang tersebut sering terisolasi secara emosi, merasa sendiri, hampa dan depresi.

“Usia-usia tersebut memang rentang mengalami depresi karena keberadaan atau eksistensi diri. Ini ada hubungannya dengan teori perkembangan psikososial yang digagas oleh Erik H.Erikson,” ujar Dharmawan.

Topik berita Terkait:
  1. Depresi
  2. Sulli
Berikan Komentar
Komentar Pembaca