Pj Walikota Makassar Jelaskan Penyebab Demo Satpol PP

Kamis, 27 Februari 2020 11:28 WITA Reporter : Musthain
Pj Walikota Makassar Jelaskan Penyebab Demo Satpol PP

MAKASSARMETRO – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Makassar melakukan unjuk rasa dengan mengunci pintu masuk Balaikota, Rabu (26/2/2020).

Aksi ini dilakukan karena Satpol PP merasa khawatir akan adanya pemotongan honor mereka karena menggunakan sistem absensi elektronik. Sistem ini diberlakukan oleh BKSDM Kota Makassar sebagai dasar untuk pembayaran tunjangan kinerja pegawai

Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb menjelaskan penyebab kekhawatiran Satpoll PP ini. Menurut Iqbal, sistem absensi yang baru diberlakukan kurang tersosialisasi dengan baik, yang menyebabkan sejumlah pegawai, khususnya Satpol PP merasa khawatir honornya tidak diterima atau mengalami pemotongan karena tidak melakukan absensi, khususnya yang bertugas di luar kantor.

“Selama ini sosialisasi yang dilakukan BKPSDM hanya kepada operator pengelola sistem yang ada di masing-masing unit kerja saja. Akibatnya banyak pegawai yang belum paham,” ujar Iqbal, di Baruga Anging Mammiri, Rabu (26/2/2020).

Iqbal menambahkan bahwa ia telah memerintahkan agar sosialisasi dilakukan secara menyeluruh, agar tidak ada lagi kekhawatiran dari pihak Satpol PP.

“Kita sudah perintahkan untuk dilakukan sosialisasi secara menyeluruh pada hari Senin depan, dan kita minta kepada Satpol PP untuk tidak perlu lagi cemas jika tidak melakukan absen eletronik, karena itu bisa diganti dengan absen manual, khususnya yang bertugas di luar kantor” ucap Iqbal.

Berawal dari protes yang dilakukan oleh sejumlah Satpol PP di Kantor Balaikota Makassar, terjadi pula peristiwa gaduh di Rumah Jabatan Walikota Makassar, yang kini videonya viral di tengah masyarakat

Pada saat protes terjadi, di waktu bersamaan, Iqbal Suhaeb tengah menerima tamu dari Uni Eropa di rumah jabatan Walikota Makassar. Iqbal mendapat informasi terkait kejadian itu saat tengah menerima tamu dari Uni Eropa.

“Makanya usai menerima tamu, saya panggil semua yang terkait untuk dibicarakan. Dan Alhamdulillah, setelah ada penjelasan mengenai sistem absensi elektronik yang bisa diganti dengan sistem manual bagi pegawai yang bertugas di luar kantor, akhirnya terjadi kesepahaman” ujar Iqbal.

Dalam pertemuan itu, hadir di antaranya Asisten Pemerintahan, Sabri, Kasat Pol PP, Iman Hud, serta Plt Kepala BKPSDM Kota Makassar, Basri Rakhman.

Usai pertemuan Iqbal selanjutnya ke Baruga Anging Mamiri untuk melakukan penandatanganan MoU antara Dinas Kesehatan Kota Makassar dengan Perusda Sulsel.

Namun disaat bersamaan, di depan pintu masuk Rumah Jabatan Walikota, datang pegawai dari BKPSDM untuk menjelaskan lagi soal absensi yang sebenarnya sudah dibahas di dalam pertemuan sebelumnya. Inilah yang kemudian membuat sejumlah pejabat tersinggung yang kemudian videonya viral.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan Kota Makassar, Sabri saat menjelaskan kepada wartawan usai peristiwa tersebut mengatakan bahwa penutupan pintu pagar kantor Walikota yang sempat dilakukan oleh sejumlah anggota Satpol PP adalah sebuah kesalahan, meskipun ada situasi psikologis yang mestinya dimaklumi.

“Tentu saya sebagai atasannya mengakui itu sebuah kesalahan dan saya meminta maaf. Namun harus kita pahami bahwa ada situasi psikologis yang dialami pasukan kita di bawah yang selama ini bekerja dua puluh jam,” ujar Sabri.

Sabri menjelaskan bahwa kegaduhan yang terjadi akibat salah paham antar SKPD. Selain itu, menurut Sabri situasi Satpol PP yang khawatir dengan sistem yang baru itu membuat mereka tertekan.

“Makanya saya segera datang menemui, menenangkan mereka agar jangan anarkis. Yang kedua, ini hanya persoalan miss komunikasi di dalam SKPD. Mereka itu banyak dilapangan, mana bisa mereka langsung paham, apalagi tidak disosialisasikan dengan baik. Tapi dalam situasi begini tiba-tiba ada muncul diluar mengajak berdebat, memperlihatkan berbagai macam ini dan itu, padahal situasi psikologis anggota kita sedang tertekan. Dan ketika ditanya cenderung menyalahkan, makanya saya cepat menegur, agar situasi tidak berkembang yang bisa menyebabkan eskalasi meluas” ujar Sabri.

Untuk sementara, menurut Sabri, yang masih bermasalah disarankan untuk absen manual dulu, sambil menunggu sosialisasi yang lebih massif.

“Kita Jangan berharap setiap orang langsung bisa menguasai setiap teknologi baru yang muncul, itu butuh proses, apalagi yang selama ini tugasnya dilapangan, waktunya kapan untuk melakukan itu. Kita harus sadar, mereka itu bekerja dengan tugas berat, kadang kena busur, belum lagi pendapatan yang tidak seberapa. Mereka ini tidak sama dengan yang bekerja didalam kantor, diruang ber AC, atau dibelakang meja, ini yang harus kita pahami bersama” pungkasnya.

Berikan Komentar
Komentar Pembaca