PSBB Tidak Membatasi Ibadah, Penutupan Masjid untuk Cegah Keramaian

25 Apr 2020 13:47
Author: Redaksi MakassarMetro

MAKASSARMETRO — Jumlah kasus terinfeksi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia masih menunjukkan tren kenaikan. Sebagian sembuh, sebagian lagi menjalani perawatan, dan sebagian lain meninggal dunia.

Bahkan, sangat mungkin sebagian orang yang terinfeksi belum masuk data laporan Kementerian Kesehatan RI karena sejumlah keterbatasan, juga karena perilaku masyarakat salah satunya karena belum disiplinnya masyarakat menerapkan jaga jarak

Beberapa daerah mengambil kebijakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) termasuk di Kota Makassar yang salah satu himbauannya adalah menutup tempat ibadah. Namun demikian, rupanya sebagian orang ada yang masih salah dalam memahami keputusan tersebut,

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Ibrahim Tompo menyampaikan bahwa masyarakat seharusnya memahami penutupan tempat ibadah. Subtansinya bukan melarang ibadah, namun untuk menghindari keramaian, guna memutus penyebaran Covid-19.

“Jangan disalahartikan terkait pelarangan ibadah tersebut namun hal ini merupakan upaya pemerintah untuk menyelamatkan umat dan jamaah dari penyebaran Covid 19 untuk menghindari berkumpulnya orang dengan menutup sementara tempat ibadah,” ujar Kombes Pol Ibrahim Tompo, Sabtu (25/4/2020).

Lebih lanjut Kabid Humas menjelaskan penyebaran Covid 19 di masjid menjadi sangat mudah karena bisa terjadi pada alas tempat shlat dimana terpercik droplet dan bekas tersebut di sentuh lagi dan kena ke wajah oleh orang yang sehat.

“Jadi saya harap masyarakat memahami bahwa ibadah dengan sholat berjamaah tidak dilarang namun sholat berjamaah akan memudahkan terjangkitnya covid 19,” harap Kabid Humas

Dia menambahkan penjelasannya bahwa sebagian orang, mungkin saja yang berada di masjid, terlihat tetap sehat-sehat saja, namun saat terkena virus bawaan, atau carrier bahkan orang tanpa gejala.

“Boleh jadi kebetulan karena stamina tubuh mereka lagi baik. Virusnya tidak mempengaruhi kondisinya karena daya tahan tubuhnya baik, namun tetap sebagai pembawa virus covid,” kata dia.

“Tapi, bagaimana dengan jamaah yang kebetulan daya tahan tubuhnya sedang rendah? Mungkin karena dia lagi kecapean, mungkin dia sedang lelah, mungkin stress, kurang istirahat, kurang tidur, kurang minum dan lainnya, Maka fisiknya tidak bisa bertahan saat ketemu dengan virus bawaan dari orang lain yang terjadi tanpa sadar. Demikan juga kepada orang yang sudah kena dan juga tidak sadar kalau sudah jadi pembawa virus jahat buat orang lain,” jelas Kombes Pol Ibrahim Tompo.

Berita Terkini