May Day dan Sejarah Perjuangan Panjang Kaum Buruh

Jumat, 01 Mei 2020 12:37 WITA Reporter : Makassarmetro
May Day dan Sejarah Perjuangan Panjang Kaum Buruh

MAKASSARMETRO — 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia, yang dikenal juga dengan istilah May Day. Biasanya di, buruh ataupun serikat buruh turun ke jalan menyuarakan tuntutan dan hak mereka dengan aksi damai di jalanan. Di Indonesia, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sejarah May Day

Mengutip International Workers of the World, peringatan hari buruh bermula di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat (AS). Sekitar 30 ribu pekerja memboyong keluarganya turun ke jalan pada 1 Mei 1886 sehingga membuat kota lumpuh.

Buruh di berbagai penjuru AS mogok kerja, tuntutannya yakni pengurangan jam kerja menjadi 8 jam kerja sehari. Sejak awal abad ke-18 sudah pemandangan umum perusahaan memeras keringat buruh selama 18 jam kerja dalam sehari.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada kesehatan hingga berakibat pada rendahnya harapan hidup bagi para buruh. Buruh yang bekerja di bawah jam kerja tidak sesuai aturan perusahaan akan dipotong gajinya.

Aksi unjuk rasa ratusan ribu buruh itu berlangsung selama berhari-hari. Bahkan, aksi itu juga diwarnai dengan ledakan bom. Tragedi di Haymarket berdampak luas. Dari aksi tersebut kemudian diselenggarakannya Kongres Sosialis Internasional II di Paris, Juli 1889. Kongres tersebut menetapkan 1 Mei sebagai hari libur para buruh.

May Day di Asia dan Indonesia

Di Surabaya, 1 Mei 1918 disebut sebagai aksi May Day pertama di Indonesia bahkan di Asia. Aksi ini diinisiasi serikat buruh Kung Tang Hwee Koan.

Klaim aksi pertama diperkuat dengan artikel berjudul “Onze eerste 1 Mei-viering” (Perayaan Satu Mei Pertama Kita) dalam dalam Het Vrije Woord. Dikutip dari Historia, artikel ini berisi kekecewaan terhadap peringatan May Day yang massanya hanya orang-orang Belanda.

Peringatan berikutnya tercatat pada tahun 1921, saat HOS Tjokroaminoto dan muridnya, Sukarno, berpidato di bawah Sarekat Islam.

Kemudian tahun 1923, di mana Serikat Buruh Kereta Api dan Tram. Semaun berpidato untuk menyebutkan sejumlah permasalahan buruh dan menyerukan untuk melakukan aksi mogok. Sejumlah isu yang disebutkan antara lain, jam kerja, badan artibrase untuk menyelesaikan sengketa kerja, kenaikan gaji, serta larangan PHK sepihak.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, di bawah kabinet Syahrir Mei 1946, peringatan hari buruh bahkan dianjurkan oleh Menteri Sosial Maria Ullfah.

Mensos juga meminta agar perusahaan tetap membayar gaji pada para buruh yang memperingati 1 Mei. Peringatan hari buruh terus berlanjut hingga 1 Mei 1950, para buruh mengajukan tuntutan Tunjangan Hari Raya (THR).

Perjuangan buruh akhirnya membuahkan hasil, pada 1954 pemerintah melahirkan Peraturan tentang Persekot Hari Raya. Sejak saat itu THR bisa dinikmati oleh buruh hingga saat ini.

Namun, sepanjang masa orde baru, peringatan hari buruh dilarang. Peringatan 1 Mei diidentikkan dengan aktivitas dan muatan paham komunis. Meskipun begitu, aksi sporadis sering muncul dan berakhir dengan penangkapan para demonstran.

Setelah orde baru berakhir, gerakan serikat buruh mulai bermunculan. Lahirnya gerakan serikat buruh didukung dengan ratifikasi konvensi ILO nomor 81 tentang kebebasan berserikat bagi buruh pada era kepemimpinan Presiden BJ Habibie.

Ratifikasi tersebut kemudian diikuti dengan lahirnya UU Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh. Pada 1 Mei 2000, ribuan buruh turun ke jalan melakukan aksi. Bahkan, aksi tersebut dilakukan hingga tujuh hari lamanya.

Sejak saat itu, para buruh rutin turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka setiap 1 Mei. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Selamat hari buruh

Berikan Komentar
Komentar Pembaca