Kemkominfo Akui Sulit Bendung Penyebaran Informasi Hoaks Terkait Covid

Rabu, 08 Juli 2020 10:23 WITA Reporter : Makassarmetro
Kemkominfo Akui Sulit Bendung Penyebaran Informasi Hoaks Terkait Covid

MAKASSARMETRO — Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia kesulitan untuk memblokir atau menghapus informasi hoaks terkait virus SARS-Cov-2, terutama yang beredar di aplikasi pesan instan. Hal itu disampaikan Direktur Tata Kelola Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Mariam F Barata, Selasa (07/07)

“Agak susah melakukan pemblokiran melalui aplikasi pesan instan, kalau di media sosial bisa kami blokir,” terang dia.

Bahkan selama bulan Juni 2020 terdapat setidaknya 850 kabar bohong atau hoaks terkait virus corona Covid-19 di media sosial dan pesan instan.

“Sejak 23 Januari 2020 hingga 15 Juni 2020 terdapat setidaknya 850 hoaks yang beredar baik melalui media sosial maupun aplikasi pesan instan,” ujar Mariam.

Setiap harinya, kata Mariam, rata-rata 6,2 hoaks Covid-19 yang dibuat dan disebarkan. Hal itu menimbulkan ketakutan, ketidakpastian, bahkan kepanikan di tengah masyarakat.

“Sebanyak 104 pelaku penyebaran hoaks tersebut telah ditindaklanjuti pihak kepolisian,” katanya.

Sebelumnya, Kominfo menyebut 17 orang ditahan akibat menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait penularan virus corona. Sejak 30 Januari sampai 9 Juni 2020, Kemenkominfo telah mengadukan 104 tersangka kasus berita bohong atau hoaks ke pihak kepolisian.

Mereka tersebar di 28 wilayah Polda, seperti Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim hingga pulau-pulau luar Jawa. Pelaku yang diadukan juga ada di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan Papua.

Dari 104 tersangka 17 orang ditahan, sementara 87 orang lainnya tidak ditahan. Mereka yang dijebloskan ke penjara dijerat oleh lima pasal.

Kelima pasal itu adalah pasal 28 dan 45 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 14 dan 15 Undang-undang Nomor 1/46 tentang Peraturan Hukum Pidana, dan pasal 16 Undang-undang PDRE (Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis).

Berikan Komentar
Komentar Pembaca