Jam Malam Tidak Terlalu Berpengaruh Besar Turunkan Kasus COVID-19 di Makassar

Rabu, 03 Februari 2021 14:45 WITA Reporter : Makassarmetro
Jam Malam Tidak Terlalu Berpengaruh Besar Turunkan Kasus COVID-19 di Makassar Ilustrasi.

MAKASSARMETRO – Pemerintah Kota Makassar punya kebijakan menerapkan jam malam sebagai salah satu langkah menekan penyebaran COVID-19. Nyatanya, upaya itu tidak terlalu berdampak signifikan.

Ketua Tim Epidemiologi Satgas Penanganan COVID-19 Kota Makassar, Ansariadi, mengatakan sejak kurang lebih sebulan terakhir saat jam malam mulai diberlakukan, tidak terjadi peningkatan kasus COVID-19 secara eksponensial seperti dua atau tiga pekan sebelumnya.

“Namun demikian, jumlah kasus ini masih tetap tinggi. Jadi kita antara 1.800-1.200 kasus baru per minggu. Jadi ini stagnan. Tidak meningkat, tapi tidak juga menurun. Kalau disebut menurun belum, walaupun ada kelihatan, tapi itu sedikit sekali penurunannya,” kata Ansariadi dikutip dari IDN, Rabu (3/2/2020).

Pembatasan aktivitas masyarakat dengan menerapkan jam malam mulai diberlakukan Pemkot Makassar pada 24 Desember 2020 lalu.

Hingga kini, pembatasan aktivitas malam hari masih diterapkan, tetapi dengan pelonggaran yang awalnya kegiatan dibatasi sampai pukul 19.00 Wita menjadi pukul 22.00 Wita.

Menurut Ansariadi, penerapan jam malam minimal bisa mencegah terjadinya angka peningkatan kasus yang berlipat ganda atau eksponensial.

Setidaknya, kata dia, hal itu jauh lebih baik dibandingkan dengan terjadinya kenaikan kasus terus-menerus seperti pada dua pekan sebelumnya.

“Mudah-mudahan kita berharap walaupun terjadi penurunan sedikit dari waktu ke waktu kita harapkan itu bisa terjadi,” katanya.

Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 Sulsel, pada beberapa hari terakhir, tercatat jumlah kasus yang cukup tinggi. Pada 30 Januari tercatat 430 kasus baru dan pada 31 Januari ada 601 kasus baru.

Ansariadi mengatakan jumlah itu termasuk yang tertinggi selama pandemik di Kota Makassar. Di tanggal 29 Januari kasus tercatat hanya 153, pada 28 Januari 169, dan 27 Januari 130 kasus.

“Tapi kalau kita lihat distribusi onset-nya itu sebetulnya lebih pada terjadi penumpukan kasus. Karena sebelumnya kalau saya melihat memang cukup rendah yang dilaporkan dari estimasi saya,” ujar epidemiolog Universitas Hasanuddin ini.

Ansariadi memprediksi bahwa biasanya peningkatan kasus terjadi di akhir pekan. Sebab saat itu semua spesimen telah selesai diperiksa. Tapi hal ini akan menjadi evaluasi pihaknya.

“Kalau dia (angka) konsisten sekitar 600 berarti lampu merah bagi kita. Karena tidak biasa. Kalau kita dapatkan biasanya 200-300 kasus. Coba kita ikuti sampai beberapa hari ke depan, apakah konsisten sekitar 600 atau kembali ke normal sekitar 200-300,” bebernya. (*)

Topik berita Terkait:
  1. Covd-19 Makassar
  2. Covid-19
Berikan Komentar
Komentar Pembaca