Kemarau Panjang, PDAM Makassar Bergerak Salurkan 4,56 Juta Liter Air Bersih untuk Masyarakat

22 Sep 2026 21:36
Author: agung

MAKASSARMETRO, MAKASSAR — Musim kemarau panjang, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar memperkuat langkah siaga untuk membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih.

Distribusi dilakukan secara gratis dengan mengerahkan armada mobil tangki hingga mobil pickup yang dilengkapi tandon air.

Armada tersebut tidak hanya menyasar kawasan yang dapat dijangkau kendaraan besar, tetapi juga menyisir jalan-jalan sempit dan lorong permukiman hingga malam hari.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk respons PDAM terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan pasokan air selama musim kemarau.

“Penyaluran secara gratis, memberikan bantuan air bersih gratis bagi pelanggan maupun nonpelanggan yang mengalami krisis air,” kata Andi Syahrum, Selasa (22/9/2026).

Distribusi air bersih oleh pihak PDAM saat ini telah menjangkau sembilan wilayah kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Bontoala, Wajo, Tamalanrea, Biringkanayya, sebagian Panakkukang, sebagian Manggala, dan sebagian Kecamatan Makassar.

Untuk memperluas jangkauan, PDAM juga menyiapkan armada berukuran lebih kecil di setiap wilayah pelayanan.

Kendaraan tersebut difungsikan untuk menjangkau lorong-lorong yang sulit dimasuki mobil tangki sekaligus membawa tandon air untuk warga.

Andi Syahrum menegaskan bantuan tersebut diberikan tanpa pungutan, baik kepada pelanggan maupun warga yang bukan pelanggan PDAM.

“Kalau tidak pelanggan, tentu ada suratnya masuk. Supaya nanti kalau diperiksa, kita ke mana kok bawa air ini,” jelansya.

“Karena air ini kan bernilai uang. Setetes air pun itu harus kita pertanggungjawabkan ke mana,” sambung Andi Syahrum.

Dalam pelaksanaan distribusi, PDAM mencatat telah menerbitkan sebanyak 1.110 Surat Perintah Kerja (SPK) distribusi/proyek air dengan total volume air yang telah disalurkan mencapai sekitar 4.560.000 liter.

Distribusi juga dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI dan Polri. Untuk penanganan kekeringan, PDAM turut memberikan dukungan melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Yang ke BPBD TNI, Polri itu gratis. Tetapi kita punya SK dalam rangka kekeringan, CSR-nya PDAM memberikan bantuan air,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan air masyarakat, Andi Syahrum mengatakan kondisi distribusi air PDAM tidak semata-mata menunjukkan kekurangan sumber air.

Menurut dia, salah satu indikator kelancaran distribusi dapat dilihat dari antrean mobil tangki.

Ketika antrean kendaraan tangki berkurang, hal tersebut menunjukkan pasokan air ke jaringan pelayanan mulai berjalan lebih lancar.

Namun, PDAM tetap melakukan pemantauan terhadap kualitas air, termasuk parameter Total Dissolved Solids (TDS).

“Untuk mengantisipasi kebutuhan warga di kawasan yang sulit terjangkau, enam wilayah pelayanan PDAM telah kita siapkan armada kecil yang membawa tandon air dan dapat masuk ke lorong-lorong permukiman,” terang mantan camat Biringkanaya itu.

Terkait laporan air berwarna hitam yang sempat diterima masyarakat, Andi Syahrum menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan proses pergantian atau pekerjaan pada jaringan pipa.

Menurutnya, ketika pipa dalam kondisi kosong kemudian kembali dialiri air, terdapat kemungkinan endapan atau material sisa di dalam jaringan ikut terbawa aliran.

“Itulah, pergantian pipa, pada saat pipa kosong, kemudian air mengalir, tentu membawa beberapa ampas-ampas di situ,” jelasnya.

Ia juga mengakui kondisi jaringan perpipaan PDAM saat ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas dan kontinuitas pelayanan. Sebagian jaringan telah berkembang secara kompleks dan tidak seluruhnya mudah dipetakan.

Selain itu, terdapat sejumlah jaringan pipa yang berada cukup dalam sehingga membutuhkan koordinasi dan perizinan sebelum dilakukan pekerjaan.

Ia mencontohkan jaringan di kawasan Jl. Urip Sumoharjo dan Jl. Perintis Kemerdekaan yang berada sekitar dua meter di bawah permukaan.

Kondisi tersebut membuat proses penanganan membutuhkan izin dari pihak terkait, termasuk adanya persyaratan jaminan.

Namun, Andi Syahrum menyebut PDAM masih menghadapi kendala administrasi karena belum memiliki nomenklatur anggaran untuk pembayaran jaminan tersebut.

Meski menghadapi sejumlah tantangan teknis dan administrasi, PDAM Makassar memastikan distribusi air bersih terus dilakukan sebagai langkah tanggap terhadap kebutuhan masyarakat selama musim kemarau panjang.

“Kami PDAM juga terus berkoordinasi dengan pimpinan Pemerintah Kota, BPBD, TNI, Polri serta unsur RT/RW agar bantuan air dapat diarahkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” tukasnya.

Langkah Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar mengerahkan armada berukuran kecil yang dilengkapi tandon air untuk menjangkau lorong-lorong permukiman mendapat perhatian dari pemerhati publik.

Pemerhati publik, Dr. Nurmal Idrus, menilai langkah tersebut menjadi inovasi layanan yang relevan di tengah musim kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi sebagian masyarakat.

Menurut Nurmal, pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pelayanan publik. Bukan hanya menunggu masyarakat mendatangi titik distribusi, tetapi menghadirkan layanan lebih dekat dengan warga.

“Logikanya sederhana, kalau warga sulit mendatangi air, maka air yang harus mendatangi warga,” kata Nurmal.

Ia mengatakan, kondisi Kota Makassar tidak hanya ditentukan oleh kawasan jalan protokol, gedung tinggi, maupun pusat bisnis.

Di balik itu, terdapat lorong-lorong sempit yang menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus menghadapi persoalan pelayanan dasar, termasuk kebutuhan air bersih.

Karena itu, penggunaan kendaraan pengangkut air berukuran lebih kecil dinilai menjadi bagian penting dari strategi distribusi di kawasan yang sulit dijangkau mobil tangki berukuran besar.

“Kendaraan ini bisa menyusuri lorong-lorong yang sulit dijangkau kendaraan besar,”  ujarnya.

Nurmal menilai, substansi inovasi tersebut bukan semata-mata terletak pada bentuk kendaraan yang digunakan, tetapi pada pendekatan pelayanan yang menempatkan akses warga sebagai pertimbangan utama.

Menurutnya, pelayanan publik tidak selalu harus menunggu masyarakat datang. Dalam kondisi tertentu, pemerintah dan penyelenggara layanan justru perlu mendatangi masyarakat yang membutuhkan.

“Pelayanan publik tidak selalu harus menunggu warga datang. Sesekali pemerintah yang harus mendatangi warga,” katanya.

“Ukuran sederhana sebuah inovasi publik bukan seberapa canggih namanya, tetapi seberapa dekat manfaatnya dengan warga,” tambah Nurmal.

Nurmal berharap pendekatan pelayanan tersebut dapat terus diperkuat selama kondisi kemarau berlangsung, sembari tetap dibarengi pembenahan jaringan dan penguatan sistem penyediaan air bersih secara berkelanjutan.

“Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang punya jalan besar, tetapi juga kota yang pemerintahnya mau masuk ke jalan-jalan kecil tempat warganya hidup,” tandasnya. (*)

Munafri ArifuddinWali Kota Makassar

Berita Terkini