
MAKASSARMETRO – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memutus layanan administrasi Dinas Disdukcapil Makassar.

Terkait hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unhas, Prof Dr Armin Arsyad menilai keputusan itu keliru lantaran mengorbankan hak warga Makassar mendapatkan pelayanan publik dari pemerintah.
Padahal, kata Armin, dalam Undang – Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, mengamanatkan negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap warga negara melalui suatu sistem pemerintahan yang mendukung terciptanya penyelenggaraan pelayanan publik yang prima dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar dan hak sipil setiap warga negara atas barang publik, jasa publik, dan pelayanan administratif.
“Jangan menghukum masyarakat dalam bentuk pemutusan online. Kalau itu yang terjadi, bukan Pemkot Makassar yang dihukum tapi rakyat Kota Makassar yang membutuhkan layanan Capil yang dihukum oleh Dirjen Dukcapil,” kata Dekan Fisip Unhas ini melalui sambungan telepon, Minggu (25/8/2019).
Lebih lanjut, Dosen Hubungan Internasional itu mengatakan, jika dalam pemerintahan, tidak boleh terjadi pemerintah memutus hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik.
“Dalam keadaan bagaimana pun layanan kepada masyarakat harus terus berlangsung, dan kalau ada terjadi kesalahan teknis dalam tubuh pemerintahan atau birokrasi harus dibicarakan ke dalam dan diselesaikan sesuai dengan aturan dan mekanisme yang ditetapkan,” tegasnya.
Idealnya menurut dia, Dirjen Dukcapil melakukan kordinasi dengan Dirjen Otonomi Daerah (Otda) karena kedua lembaga itu bernaung dalam satu kementerian yaitu Kemendagri RI. Sehingga keputusan yang direkomendasikan oleh Dirjen Otda pada prinsipnya disetujui oleh Dirjen Dukcapil.
“Jadi sebenarnya ini persoalan kordinasi yang keliru tapi masyarakat yang dihukum. Seharusnya Dirjen memahami bahwa wali kota hanya menjalankan perintah atasan dan sudah sesuai dengan prosedur. Tidak boleh menghukum masyarakat dalam bentuk pemutusan online,” lanjutnya.
Bisa saja, kata Armin, Dirjen Dukcapil menyurat ke gubernur Sulsel atau menyurat ke Pj. wali Kota Makassar dengan tembusan gubernur dan Dirjen Otda untuk meminta posisi Kadis Dukcapil Makassar diisi dengan pejabat lama.
“Kalau misalnya dia sangat dibutuhkan di situ,” kata Armin.
Menurutnya, jika langkah itu yang ditempuh oleh Dirjen Dukcapil maka Pj wali Kota Makassar akan tunduk dan patuh pada perintah atasan.
“Tentu wali Kota Makassar akan berkonsultasi pada pak gub, Dirjen Otoda, dan apa yang merupakan petunjuk dari atas kalau sudah berkordinasi dengan baik akan dilaksanakan dengan sungguh – sungguh dan sesuai dengan Protap yg telah ditetapkan oleh kementerian,” pungkasnya.
Munafri Jamu dan Lepas Pemain PSM ke Parepare, Tegaskan Dukungan Pemkot Makassar
Sabtu, 12 September 2026 18:29
Percepat Normalisasi Antrean BBM, Munafri Sarankan Klaster SPBU dan Jadwal Khusus Truk-Bus
Sabtu, 12 September 2026 10:07
Kunker ke BPJS Ketenagakerjaan, Komisi D DPRD Makassar Matangkan Ranperda Jamsostek
Jumat, 11 September 2026 23:12
Ridwan Andi Wittiri Desak Percepatan Penanganan Kelangkaan BBM di Makassar
Rabu, 09 September 2026 12:42
Bantu Petugas Kebersihan, DLH Makassar Hibahkan Motor Tiga Roda untuk Pasar Senggol
Selasa, 08 September 2026 16:19
Appi Titip Tugas Khusus untuk Kepala UPT TPA Tamangapa: Benahi Sistem, Rangkul Warga
Selasa, 08 September 2026 14:34
Didukung Sahabatnya Figur Muda Ternama, Rezza Said Mantap Maju ke Musda REI Sulsel
Senin, 07 September 2026 12:03
Bertambah 15.177 KK Tamalate Nikmati Iuran Sampah Gratis, Warga Pilah Sampah dari Rumah
Senin, 07 September 2026 09:05