Mengenal Sosok Syekh Yusuf Ulama Besar dari Tanah Gowa
MAKASSARMETRO — Memperdalam ilmu agama sejak umur 15 tahun, sosok Syekh Yusuf al-Makassari dikenal sebagai ulama sufi mengajarkan tarekat Khalwatiyah. Mubaligh kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1037/1627 belajar pada banyak guru.
Menghabiskan massa kecil di Cikoang, guru pertama yang memperkenalkannya terhadap ilmu agama adalah Daeng Ri Tassamang. Selain Daeng Ri Tassamang, dia juga berguru dengan Sayyid Ba-Alawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Sayyid Jalaludin Al-Aidid.
Menunaikan haji di tahun 1644 Syekh Yusuf menetap dalam waktu lama serta mempelajari agama bersama ulama terkemuka di Mekah dan Madina. Lalu berkelana ke Yaman hingga Damaskus, serta menghabiskan sekitar 20 tahun di wilayah Timur Tengah.
Selama masa pencariannya di Timur Tenggah, ia bertemu dua ulama untuk berguru yaitu; Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi.
Tidak hanya memperkenalkan tarekat Khalwatiyah, Syekh Yusuf mengajarkan tarekat lain Misalnya, Qadiriyah, Naqshabandiyah, Ba’lawiyah, dan Syattariyah. Itu semua sesuai ijazah yang pernah dterimanya.
Dalam berbagai sumber yang dihimpun Makassarmetro melalui wikipedia dan berbagai portal berita online Syekh Yusuf pernah seperguruan Syekh Abdur Rauf Singkel (1620-1693) mempelajari tarekat Syattariah dari Syekh Mulla Ibrahim.
Meski Syekh Yusuf mengajarkan bermacam-macam tarekat, namun dirinya tetap menekankan nilai-nilai ketauhidtan mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mengacu pada peningkatan kualitas akhlak yang mulia serta penekanan amal shalih dan zikir.
Menurutnya ibadah shalat dan zikir merupakan amalan yang dapat membawa seorang salik sampai ke ujung suluknya. Dengan demikian, kedudukan zikir dalam tarekat Syekh Yusuf menempati posisi yang sangat penting.
Tentang pokok-pokok ajaran tarekat dan seluk beluknya, di antaranya dapat kita temui penjelasan Syekh Yusuf dalam risalahnya berjudul An Nafhatu As Sailaniyah. Dimanuskriplama ini terungkap petunjuk-petunjuk bagi orang yang akan mulai memasuki tarekat.
Syekh Yusuf menjelaskan permulaan memasuki dunia tarekat itu dimulai dengan pengertian maqam (tempat) dan al-hal (kondisi).Risalah lainnya yang berjudul Kaifiyat Al Dzikir (Cara-cara Berdzikir) berkaitan tentang tata cara melakukan zikir, salah satu amalan terpenting dalam tarekat.
Di risalah itu pula dirinya mengungkapkan, 20 macam adab berzikir. Lima di antaranya mengenai hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum berzikir. Lima macam itu, katanya, sebagai berikut.
Bertaubat dari segala dosa; berwudhu jika hadas (najis) serta mandi jika junub; berdiam diri tidak bicara, kecuali mengucapkan kalimat zikir; minta tolong pada Allah supaya sempurna keikutan pada Syekhnya saat mulai zikir.
Selain beberapa risalah yang disebut di atas, sedikitnya ada 20 judul buku telah ditulis Syekh Yusuf. Hampir semuanya dalam bahasa Arab.
Di antaranya yang terkenal adalah Zubdad Al Asraar fi Tahqiq Ba’d Masyarib Al Akhyar, Taj Al Asraar fi Tahqiq Masyrab Al ‘Arifin min Ahl Al Istibshar, dan Matalib As Salikiin, Fath Kaifiyyah Az Zikr. Karyanya yang paling populer, yakni Safiinat An Najah, yang hingga kini masih banyak diajarkan di berbagai pesantren. Di Museum Pusat Jakarta, juga didapati sekitar 10 manuskrip Syekh Yusuf yang belum diterjemahkan.