Begini Cara Mualaf Virginia Belajar Islam di Tengah Wabah Corona
MAKASSARMETRO — Jumlah penduduk Amerika mencapai 3, 45 juta orang, 0,8 persen dari populasi merupakan warga Muslim, seperti dikutip dari VOA. Pemeluk agama Islam menjadi kaum minoritas di Negeri Paman Sam.
Kendati demikian, menurut survei Pew Research Center, Islam masih menjadi agama yang berkembang paling pesat di AS. Lahirnya beberapa organisasi atau komunitas yang menaungi warga muslim menjadi sebuah bukti.
Salah satunya, Comfasion (Community Faith Support Organization) yang berpusat di Virgina. Berdiri enam tahun silam, organisasi tersebut mempunyai misi mendampingi dan membantu mualaf dalam perjalanan mengenal Islam seutuhnya.
Comfasion biasanya melaksanakan pertemuan sebulan sekali yang dilakukan di masjid, untuk mengajari para mualaf baca Al-Quraan dan mengenal risalah (riwayat) nabi Muhammad SAW.
Ramadhan tahun ini bertepatan dengan adanya Corona mewabah banyak masjid yang ditutup. Sehingga yang biasanya pertemua seminggu sekali saat Ramadhan tidak bisa dilaksanakan, karena pemberlakuan social distancing.
“Otomatis pertemuan nggak ada tapi akhirnya kelas online makin banyak. Tadinya cuma tiap minggu sekarang ini malah rencananya ada tiga kelas. Jadi makin banyak karena Zoom lebih luas capaiannya,” ujar kata Saroh Thomas, salah seorang pendiri yang juga ketuanya.
Menurutnya Comfasion perlu melakukan penyesuaian dalam program regulernya. Selain itu, mualaf tidak merasa sendiri, Saroh juga menyempatkan diri bertegur sapa dengan menelepon atau mengirimi mereka SMS. Khusus untuk Ramadan kali ini, ia menyiapkan kegiatan mengirim makanan berbuka juga hadiah Idul Fitri untuk mereka.
Sementara Sakina perempuan Mongolia yang terlahir dengan nama Byambasaikhan Saranchimeg baru satu tahun ini menjadi mualaf. Pada Ramadan tahun ini ia merasa kehilangan berbagai aktivitas di masjid, terutama diskusi dengan sesama Muslim, yang juga mualaf.
“Ramadan kali ini sama sekali berbeda dengan tahun lalu, terutama bagaimana kita salat,” tutur Sakina.
Lebih lanjut Sakinah mengungkapkan, organisasi semacam Comfasion berperan penting dalam masa di mana orang harus tinggal di rumah. Bertegur sapa melalui telepon, berpartisipasi dalam kelas-kelas pengajian online sesama mualaf dengan bimbingan ustaz, membuatnya merasa terhubung dengan komunitas Muslim.
Namun, tambah Sakina, setiap mualaf sendiri memang harus berusaha berkomunikasi dengan sesamanya untuk mengurangi perasaan kesepian mereka sebagai mualaf.
“Ramadan kali ini sama sekali berbeda dengan tahun lalu, terutama bagaimana kita salat,” tutur Sakina, mualaf Sterling tersebut.