Didi Kempot Maestro Campursari Lintas Generasi

Selasa, 05 Mei 2020 15:12 WITAReporter : Rul
Didi Kempot Maestro Campursari Lintas Generasi

MAKASSARMETRO — Lagu campursari yang sering dinyanyikan Didi Kempot, membuat namanya melambung setahun belakangan. Hingga pria kelahiran 31 Desember 1966 ini di juluki sebagai Bapak Loro Ati Nasional, hingga The Godfather of Broken Heart.

Nama Didi kembali bersinar setelah penyiar radio Gofar Hilman mewawancarainya untuk program yang ia inisiasi, “Ngobam atau Ngobrol bareng Musisi” pada Juli 2019. Bahkan menjadi perbincan dikaula muda atau yanh lebih dikenal dengan generasi melenial.

Sejak itu, banyak orang mendeklarasikan diri menyukai Didi Kempot. Lagunya di berulang kali, dan tak sedikit yang mewek sesengukan terbius daya magis Didi.

Salah satu lagu yang dinyanyikan Didi dalam video viral itu adalah Cidro, sebuah tembang yang dibuat adik dari mendiang Mamiek Prakoso itu pada 30 tahun lalu. Saat dirilis, lagu ini tak meledak sama sekali.

Lagu itu kalah dengan ‘Kalau Bulan Bisa Ngomong’ milik Doel Sumbang, karena mengandung lirik lirih yang mengisahkan cinta tak berbalas.

Dia sendiri merasa heran, mengapa generasi milenial justru lebih bisa galau karena lagu tersebut dibandingkan anak muda 30 tahun lalu, ketika dirilis pertama kali.

“Tapi sekarang malah naik. Makanya kalau saya ketemu anak-anak muda sekarang, mimpi saya berhasil. Lagu ini kalau dari 1989 itu sudah berapa [umurnya]? Sudah 30 tahun usia lagu itu,” kata Didi.

Berkat kehadiran internet Didi pun akhirnya mendapat tawaran manggung yang datang bak air bah. Undangan manggung tak hanya di kota kelahiran saja, dia diminta tampil sebagai pengisi festival musik indie yang hit di Jakarta dan menjadi pengisi acara festival jazz bertaraf internasional.

Didi, dengan langgam Jawa miliknya, melintas genre dan generasi. Secara pribadi Didi menerima titel yang disematkan para penggemarnya terhadap dirinya.

“Untuk pribadi, nama Didi Kempot seperti terlahir kembali,” kata Didi, teringat berbagai tingkah para penggemarnya yang ‘khatam’ dan otomatis bernyanyi saat ia tampil di atas panggung.

Dia seperti terlahir kembali karena keberadaan internet dan jejaring sosial. Dulu, ketika internet belum lahir, Didi berjuang manggung dari panggung hajatan ke panggung lainnya.

Tak ada kicauan viral yang mempromosikan Didi, hanya dari mulut ke mulut para penggemarnya. Namun, keadaan berubah kala internet merajalela.

“Mereka memperkenalkan Didi Kempot ke dunia dengan media sosial itu, makanya saya terima kasih. Anak-anak muda itu saya anggap benteng budaya juga karena mereka masih mau menerima lagu-lagu semacam itu,” kata Didi.

Meninggalnya Didi pada hari Selasa ini (05/05/2020) mungkin menjadi kabar duka mendalam bagi para pengemarnya. Namun banyaknya karya yang diciptakannya adalah kenangan tak terlupakan untuk kita semua.

Berikan Komentar
Komentar Pembaca