somberena parlementa

Unhas Bagian Kolaborasi Penelitian Australia Indonesia

Senin, 18 November 2019 19:41 WITA Reporter : Makassarmetro
Unhas Bagian Kolaborasi Penelitian Australia Indonesia

MAKASSARMETRO – The Australia -Indonesia Center (AIC) yang merupakan wadah kerja sama akademik antara Australia dan Indonesia, meluncurkan Partnership for Australia – Indonesia Research (PAIR). Program ini dirancang untuk menjadi wadah kolaborasi antara peneliti Indonesia dan Australia dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan.

Program PAIR secara resmi diluncurkan Senin (18/11/2019) di Baruga Pattingaloang, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan. Hadir pada peluncuran ini Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, Duta Besar Australia untuk Indonesia H.E. Gary Quinlan AO, Chief Excecutive Office The AIC Eugene Sebastian, beberapa bupati dan Walikota Makassar, para Dekan di lingkungan Unhas, para peneliti dari perguruan tinggi mitra, dan puluhan undangan lainnya.

CEO The AIC, Eugene Sebastian, menjelaskan bahwa PAIR merupakan salah satu inisiatif untuk menindaklanjuti kemitraan menyeluruh Indonesia dan Australia yang telah disepakati oleh pemerintah kedua negara pada tahun 2013. Dibandingkan dengan program lainnya, PAIT memiliki beberapa keunikan.

“Ini merupakan konsep besar yang berbeda, dipersiapkan selama 6 tahun sejak 2013. Kita ingin memecahkan masalah kedua negara secara kolaboratif, dan juga ingin menyumbang perubahan bagi masalah global. Persoalan infrastruktur, kesehatan, pangan dan lain-lain adalah masalah global,” kata Sebastian.

AIC juga mempersiapkan konsep yang unik yang berfokus pada investasi hubungan kedua negara. Terdapat 51 peneliti dalam PAIR yang berasal dari 11 perguruan tinggi terkemuka di kedua negara.

Tujuh perguruan tinggi Indonesia, yaitu:

  1. Universitas Hasanuddin,
  2. Universitas Airlangga,
  3. Universitas Gadjah Mada,
  4. Universitas Indonesia,
  5. Institut Teknologi Sepuluh November,
  6. Institut Teknologi Bandung,
  7. Institut Pertanian Bogor.

Sementara empat perguruan tinggi dari Australia, yaitu:

  1. The University of Melbourne,
  2. Monash University
  3. The University of Queensland
  4. The University Western Australia

Sebastian menjelaskan bahwa selama empat tahun mendatang, ditargetkan akan ada 500 peneliti yang terlibat, dengan komposisi 60% dari bidang sains dan 40% dari humaniora.

“Hal yang menarik dari program ini adalah para peneliti yang terlibat dalam kolaborasi kami terdiri atas 70% peneliti yang belum pernah bekerja sama satu sama lain atau berkolaborasi secara internasional. Tentu saja, hal ini akan memperkaya pengalaman masing-masing peneliti,” papar Sebastian.

Sementara itu, Gubernur Nurdin menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas dipilihnya Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar sebagai lokasi untuk mengawali program ini.

Nurdin Abdullah sejak awal berkomitmen untuk menjadikan perguruan tinggi dan riset sebagai basis setiap kebijakan.

“Saya percaya, kerja sama dengan Australia ini akan menjadi momentum saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kita masing-masing memiliki keunggulan, kalau keduanya digabungkan, bukan hanya masalah kita yang bisa kita selesaikan, bahkan masalah-masalah global juga dapat kita atasi,” kata Nurdin Abdullah.

Duta Besar Australia untuk Indoesia, H.E. Gary Quinlan AO, dalam sambutannya juga memberikan apresiasi atas upaya berbagai pihak sehingga kerja sama ini dapat terlaksana.

Makassar merupakan daerah yang penting bagi Australia, itulah sebabnya mengapa Konsulat Jenderal didirikan di kota ini.

“Kita memiliki sejarah yang panjang. Lebih 400 tahun lalu, kedatangan pertama orang Indonesia ke Australia adalah dari Makassar, yaitu para nelayan yang mencari teripang. Hubungan historis ini menjadi landasan bagi kita untuk melaksanakan kolaborasi,” kata Dubes Quinlan.

Topik berita Terkait:
  1. AIC
  2. Unhas
Berikan Komentar
Komentar Pembaca