Kasus Masih Tinggi, IDI Makassar Tolak Kebijakan Sekolah Tatap Muka

Selasa, 23 Februari 2021 14:36 WITA Reporter : Makassarmetro
Kasus Masih Tinggi, IDI Makassar Tolak Kebijakan Sekolah Tatap Muka Ilustrasi. (Foto: Tribun News)

MAKASSARMETRO – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar membeberkan fakta bahwa positive Rate 38,16 di Indonesia. Artinya 10 orang dilakukan testing swab/PCR akan ada empat orang positif.

Sementara standar WHO hanya lima persen. Selain itu, angka COVID-19 di Sulawesi Selatan masih masuk 5-7 tertinggi di Indonesia dan Makassar sebagai episentrum.

Atas dasar itu IDI Makassar menolak kebijakan sekolah tatap muka. Baik secara bertahap atau sekaligus.

Ketua IDI Kota Makassar, dr. Siswanto Wahab, mengatakan ada ada tiga poin penting untuk memperhatikan masa depan anak.

“Yakni hak anak hidup, hak anak sehat, dan hak anak mendapatkan pendidikan,” ujar Siswanto, Selasa (23/2/2021), dikutip dari Suara.

Dia mengatakan, guru saja belum divaksinasi, lebih-lebih peserta didik. Lantas siapa yang mau bertanggung jawab jika anak-anak kena COVID-19.

“Dampaknya terjadi klaster sekolah serta meninggi lagi klaster keluarga,” kata Siswanto.

IDI Kota Makassar mendukung kebijakan yang dikeluarkan akhir tahun 2020 oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Untuk menegaskan perlu adanya sejumlah hal yang diperhatikan dan dilakukan yang mencakup dukungan untuk kesehatan dan kesejahteraan anak.

Kebijakan itu sekaitan penundaan pembukaan sekolah untuk kegiatan pembelajaran tatap muka sampai guru dan peserta didik semua sudah divaksin COVID-19 dan tentu saja memiliki andil sangat besar untuk menurunkan transmisi.

Idealnya, untuk Sulsel, 1200-1300 sampel setiap hari pemeriksaan swab/PCR diluar pemeriksaan penderita positif Covid-19.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Muhammad Jufri, mempertimbangkan pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap. Pembukaan sekolah tatap muka ini dikhususkan bagi siswa kelas XII jenjang SMA/SMK. (*)

Berikan Komentar
Komentar Pembaca