MAKASSARMETRO, MAKASSAR – Suasana penuh keceriaan dan nostalgia menyelimuti halaman Culture and Development District (CDD) Sudirman, ketika Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Makassar menggelar Festival Permainan Rakyat 2025.

Kegiatan yang menghadirkan berbagai jenis permainan tradisional ini sukses menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan nilai-nilai budaya lokal di tengah masyarakat perkotaan.

Festival ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, para pejabat struktural, pegiat budaya, komunitas seni, pelajar, dan masyarakat umum. Melalui kegiatan ini, Disbud Makassar berupaya memperkenalkan kembali permainan rakyat sebagai warisan budaya yang sarat nilai edukatif, gotong royong, serta sportivitas.
Dalam sambutannya, Kadisbud Makassar menyampaikan bahwa permainan rakyat adalah bagian penting dari identitas budaya bangsa. Di tengah gempuran teknologi dan permainan digital, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional perlu kembali dihidupkan agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya.
“Permainan rakyat bukan hanya hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter. Ada nilai kerja sama, sportivitas, kejujuran, dan kebersamaan yang bisa kita pelajari darinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Festival Permainan Rakyat menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali merasakan hangatnya interaksi sosial tanpa sekat teknologi. Menurutnya, permainan seperti engklek, gasing, congklak, kelereng, bakiak, dan tarik tambang bukan sekadar nostalgia, melainkan sarana mempererat tali persaudaraan antargenerasi.
Sejak pagi, area CDD Sudirman telah dipadati ratusan pengunjung dari berbagai kalangan. Anak-anak tampak antusias mencoba permainan tradisional yang mungkin baru pertama kali mereka mainkan. Sementara itu, para orang tua dan guru yang mendampingi tampak tersenyum haru, mengenang masa kecil mereka di kampung halaman.
Salah satu peserta, Andi Rahma (35), mengaku terharu bisa memperkenalkan permainan tradisional kepada anaknya.
“Sekarang anak-anak lebih sering main di gadget. Tapi lewat festival ini, mereka bisa merasakan serunya main bersama teman, tertawa, dan belajar sportif,” ujarnya.
Selain kompetisi permainan rakyat, festival juga menampilkan pameran mini tentang sejarah permainan tradisional di Sulawesi Selatan. Ada pula workshop pembuatan mainan dari bahan alami seperti bambu, batok kelapa, dan daun lontar.
Kadisbud Makassar menjelaskan bahwa festival ini juga merupakan bagian dari program Pelestarian Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang menjadi prioritas Dinas Kebudayaan. Selain permainan, kegiatan ini turut menghadirkan pertunjukan seni tradisional seperti musik bambu, tarian rakyat, dan permainan musik menggunakan alat sederhana.
“Kami ingin masyarakat, terutama anak muda, memahami bahwa budaya itu hidup dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan cara yang menyenangkan seperti ini, pelestarian budaya bisa diterima dengan gembira,” katanya.(*)
Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia Makassar, Konstruksi Awal 2027 dan Rampung Akhir Tahun
Senin, 26 Oktober 2026 15:19
Dengar Aspirasi Warga Tamalanrea, Wali Kota Appi Tak Mau PSEL Dipaksakan
Selasa, 20 Oktober 2026 21:57
Bangun Makassar Lebih Inklusif, Appi Kenalkan Tujuh Program Prioritas kepada Praja Muda IPDN
Selasa, 20 Oktober 2026 16:36
Digitalisasi PBG Berbuah Capaian, Retribusi Makassar Tembus Rp21,38 Miliar
Senin, 19 Oktober 2026 15:25
Kabut Asap Selimuti Makassar, Appi Pastikan RS dan Puskesmas Siaga Hadapi Ancaman ISPA
Jumat, 16 Oktober 2026 19:27
Husniah Talenrang Dipecat sebagai Bupati Gowa
Kamis, 15 Oktober 2026 11:44
Tampil di Forum Dunia, Appi Gaungkan Pendidikan Disiplin Lalu Lintas Sejak Sekolah
Selasa, 13 Oktober 2026 10:12
Pemkot Makassar Perkuat Akurasi DTSEN, Pastikan Program Sosial Tepat Sasaran.
Selasa, 13 Oktober 2026 10:09