
SEMARANG– Tradisi mudik umumkan dilakukan jelang perayaan Hari Raya Idulfitri.

Namun, tak semua orang bisa merasakan mudik jelang lebaran. Demi menjalankan tugas, ada segelintir orang yang pantang mudik.
Dilansir dari laman menpan.go.id, ini kisah beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pantang mudik demi menjalankan tugas untuk memantau pemudik.
Terletak di pusat Kota Semarang, tepatnya di wilayah Tugu Muda, Gedung Wisma Perdamaian dijadikan Posko Lebaran Tahun 2019 dari tanggal 29 Mei – 13 Juni 2019.
Posko terpadu yang didirikan sejak tahun 2017 ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan koordinasi dan pemantauan lapangan.
Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah sekaligus Ketua Posko Ginaryo menjelaskan bahwa Posko Lebaran beroperasi selama 24 jam dengan sistem pembagian kerja secara shift.
Hak cuti masing-masing perwakilan dari satuan kerja juga tidak akan terganggu berkat sistem ini.
“Yang hadir di sini adalah perwakilan teman-teman dari masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Penugasan secara bergantian, dalam satu hari dibagi menjadi 2 shift. Mulai dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam dan jam 8 malam hingga jam 8 pagi. Hak mereka untuk mendapat cuti bersama sesuai aturan yang berlaku, boleh diambil dan boleh digantikan dihari lain,” terangnya.
Mudik bagi Ginaryo memang berbeda dari orang pada umumnya. Namun, ia sudah berpengalaman dalam pemantauan mudik di Jawa Tengah selama 20 tahun sehingga mampu menyesuaikan waktu dengan jadwal shift.
“Kalau ditanya orang mudik di mana, ya mudik di posko ini, tinggal memanfaatkan ketersediaan waktu luang setelahnya,” imbuh Ginaryo.
Perbedaan waktu mudik juga dirasakan Staf Seksi Manajemen Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang bertugas sebagai Koordinator Bidang Kesehatan di Posko Mudik 2019, Aries Sugiharto, “Mudik yang tertunda wajar, bahkan saya sering mudik setelah malam takbiran,” jelasnya.
Menurutnya, sistem shift sangat membantu staf yang ingin merayakan hari besar dengan keluarga karena teman dengan agama yang berbeda dapat membantu memberikan pelayanan di hari tersebut.
“Sudah risiko kita, namun penjadwalannya sudah menyesuaikan dengan kondisi kami. Misalnya saat hari H lebaran, yang muslim tidak bertugas dan digantikan dengan teman-teman lain. dari dulu sampai sekarang bisa terjadwal dengan baik,” paparnya.
Sama seperti Aries, Ginaryo memaklumi bahwa tugas ini merupakan wujud tanggung jawab dan menerimanya sebagai risiko pekerjaan.
“Ini suatu bentuk tanggung jawab, sudah resiko pekerjaan,” ungkap pria asal Purworejo ini.
Target 12.000 Pelari, Wali Kota Appi Target Makassar Half Marathon 2027 Menuju Level Internasional
Minggu, 01 November 2026 20:06
DPRD Makassar Dorong Percepatan Stadion Untia, Pastikan Target 2027
Selasa, 27 Oktober 2026 13:58
DPRD Makassar Bidik Regulasi Bantuan Hukum, Warga Miskin Tak Boleh Kalah karena Biaya
Selasa, 27 Oktober 2026 12:54
Matangkan Agenda HUT Makassar, Sekwan Andi Rahmat Mappatoba Perkuat Koordinasi
Senin, 26 Oktober 2026 17:52
Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia Makassar, Konstruksi Awal 2027 dan Rampung Akhir Tahun
Senin, 26 Oktober 2026 15:19
DPRD Makassar Tak Mau Parkir Terus Bermasalah, Jukir hingga Kebocoran Jadi Bidikan
Senin, 26 Oktober 2026 12:52
Dengar Aspirasi Warga Tamalanrea, Wali Kota Appi Tak Mau PSEL Dipaksakan
Selasa, 20 Oktober 2026 21:57
Bangun Makassar Lebih Inklusif, Appi Kenalkan Tujuh Program Prioritas kepada Praja Muda IPDN
Selasa, 20 Oktober 2026 16:36