
MAKASSARMETRO — Baru-baru ini tim peneliti Aberdeen University, Skotlandia memprediksi akan terjadi longsor bawah laut di Selat Makassar. Hal ini memicu tsunami diteluk Balikpapan yang berdampak pada wilayah calon ibu kota baru Indonesia di Kutai Kartanegara.

“jika tanah longsor bawah laut di Selat Makassar mampu menghasilkan tsunami, diperkirakan bahwa gelombang baliknya juga bisa membentuk risiko tsunami, dengan morfologi lokal seperti saluran dan muara, termasuk Teluk Balikpapan semakin menguatkan tinggi gelombang,” ungkap Rachel Brackenridge dilansir melalui laman jurnalnya, Sabtu (25/04/2020).
Ilmuwan juga memperkirakan, sifat destruktif dari tsunami tersebut setara dengan peristiwa Grand Banks tahun 1929, ketika gelombang setinggi 13 meter menghantam Pantai Newfoundland setelah longsor di sekitar 340 km dari lepas pantai. Dengan pengecualian jarak ke garis pantai, karakteristik kegagalan lereng Grand Banks, seperti volume longsoran Mass Transport Deposits (MTD) dan kedalaman air, mirip dengan MTD yang dipetakan di Selat Makassar.
“Pelepasan sumber titik energi tinggi dari tsunami dari tanah longsor juga menghasilkan gelombang balik yang signifikan, bergerak ke arah yang berlawanan dari tanah longsor. Gelombang balik ini akan hanya menempuh jarak 100 km sebelum mencapai kota-kota dataran rendah seperti Balikpapan (populasi 850.000) dan Samarinda (populasi 840.000),” lanjutnya.
Sementara itu, peneliti Institut Teknologi Bandung, bernama Benyamin Sapiie menjelaskan melalui laporan ilmiah yang disusunya. 19 zona berbeda di sepanjang Selat Makassar yang menjadi tempat lumpur, pasir, dan endapan untuk longsor ke lereng yang lebih dalam.
Data tersebut didapatkannya setelah riset menggunakan data seismik di lubuk laut (basin) Makassar Utara untuk menyelidiki sedimen dan struktur dasar laut Makassar.
Semua longsoran disebut berada di sisi barat saluran dalam laut yang melintasi Selat Makassar. Sedangkan sebagian besar longsoran terjadi di sebelah selatan delta Sungai Mahakam.
Beberapa longsoran ini melibatkan ratusan kilometer kubik material, kata periset. Jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan gelombang besar di permukaan laut.
“Tanah longsor ini, atau yang kami sebut sebagai mass transport deposits (MTD), cukup mudah dikenali dalam data seismik,” kata Brackenridge.
Kanal Panampu Al-Markaz Bakal Ditata Jadi Wisata Baru, UMKM Ikut Dilibatkan
Rabu, 30 September 2026 14:02
Pemkot Makassar Peduli Sesama Atasi Kekeringan, 1.096 Rit Air Bersih Disalurkan ke Pemukiman Warga
Sabtu, 26 September 2026 08:26
Bupati Gowa Husniah Talenrang Jadi Tersangka Kasus Gratifikasi PBG
Jumat, 25 September 2026 15:41
Transformasi Layanan Digital Pemkot Makassar Berbuah Predikat Kota TP2DD Terbaik
Kamis, 24 September 2026 19:03
Wali Kota Tantang Lulusan Teknik Elektro, Tak Sekadar Cari Kerja, tapi Ciptakan Lapangan Kerja
Rabu, 23 September 2026 12:05
Kemarau Panjang, PDAM Makassar Bergerak Salurkan 4,56 Juta Liter Air Bersih untuk Masyarakat
Selasa, 22 September 2026 21:36