BPBD Rilis Jumlah Korban, Fasilitas Rusak, Serta Kerugian Lain Akibat Bencana Sulsel Hingga Hari ke-8

Rabu, 30 Januari 2019 18:17 WITA Reporter :
BPBD Rilis Jumlah Korban, Fasilitas Rusak, Serta Kerugian Lain Akibat Bencana Sulsel Hingga Hari ke-8

MAKASSARMETRO– Total korban tewas akibat banjir dan tanah longsor hingga hari ke-8 ini berjumlah 78 orang. Lebih dari separuh korban meninggal ini berasal dari Kabupaten Gowa.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Syamsibar.

“Hingga hari ke-8 saat ini, untuk update jumlah korban tewas itu sudah sebanyak 78 orang,” kata Syamsibar saat dikonfirmasi, Rabu (30/1/2019).

Dari data yang diberikan olehnya, 3 orang masih dinyatakan hilang dan 46 orang masih manjalani perawatan di rumah sakit. Tidak hanya itu, 9.429 jiwa penduduk yang tersebar di berbagai kabupaten juga masih mengungsi.

Selaian itu, Syamsibar juga menjelaskan khusus korban tewas di Kabupten Gowa terus bertambah, hingga saat ini, tercatat 53 orang telah meninggal di daerah Kabupaten Gowa.

Berdasarkan data Crisis Center Pemerintah Gowa yang dirangkum pada hari ini, korban yang meninggal terus bertambah.

“Total korban yang meninggal hingga data pukul 23.00 Wita semalam berjumlah 53 orang di Kabupaten Gowa,” kata Widya, perwakilan Humas Pemerintah Kabupaten Gowa.

Korban-korban ini tersebar di seluruh kecamatan yang terdampak banjir dan tanah longsor. Kecamatan itu adalah Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Palangga, Kecamatan Tinggimoncong, Kecamatan Bontomarannu.

Sementara itu, pihak Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) lewat Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan penanganan darurat masih terus dilakukan di Sulsel.

Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban, penanganan pengungsi, perbaikan sarana dan prasarana terus dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Dirinya menyebutkan, bencana banjir, longsor dan puting beliung terjadi di 201 desa di 78 kecamatan tersebar di 13 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap , Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai.

Dari perhitungan BNPB, kerusakan fisik akibat banjir di Sulsel meliputi 559 unit rumah rusak, 22.156 unit rumah terendam, 15,8 km jalan terdampak, 13.808 hektare sawah terdampak, 34 jembatan, 2 pasar, 12 unit fasilitas peribadatan, 8 Fasilitas Pemerintah, dan 65 unit sekolah.

Sebelumnya, Pemerintah Sulawesi Selatan (Sulsel) memperpanjang tanggap darurat bencana selama sepekan ke depan. Perpanjangan dilakukan karena masih ada daerah terisolir akibat banjir dan tanah longsor.

“Kita perpanjang seminggu mungkin ya, kan masih ada daerah-daerah kita yang masih terisolir makanya kita coba supaya tuntas. Kita mau jangan kita stop, masih ada masyarakat kita yang masih membutuhkan” kata Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

Perpanjangan tanggap darurat ini dilakukan setelah ditetapkan seminggu lalu atau tanggal 23 Januari 2018. Dia mengatakan salah satu cara ampuh untuk antisipasi banjir dan tanah longsor adalah dengan mengembalikan fungsi konservasi hutan.

“Ini butuh waktu lama. Jadi kemungkinan butuh 3 sampai 4 tahun. Oleh karena itu kita kawal demgan doa mudah mudahan curah hujan kembali normal,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pada saat hujan turun pada 22 Januari lalu, volume hujan yang turun saat itu mencapai 385 milimeter per detik dan hujan ini turun selama satu hari penuh di hampir seluruh wilayah Sulsel.

Topik berita Terkait:
  1. Sulsel
Berikan Komentar
Komentar Pembaca