somberena parlementa

Olahraga Sebelum Sarapan Ampuh Turunkan Berat Badan

Minggu, 10 November 2019 10:28 WITA Reporter : Makassarmetro
Olahraga Sebelum Sarapan Ampuh Turunkan Berat Badan

MAKASSARMETRO – Bagi penderita obesitas, olahraga sebelum sarapan bisa jadi pilihan. Hal tersebut berdasarkan studi Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism.

“Hasil studi menunjukkan, mengubah waktu makan dapat membawa perubahan besar dan positif bagi kesehatan Anda secara keseluruhan,” kata salah satu peneliti┬áJavier Gonzalez, dari Departemen Kesehatan Universitas Bath seperti dilansir Tempo.co.

Para ilmuwan dari Universitas Bath dan Birmingham di Inggris itu melakukan eksperimen yang melibatkan 30 orang pria obesitas dan kelebihan berat badan selama enam minggu.

Mereka menguji bagaimana berolahraga sebelum dan sesudah makan mempengaruhi simpanan lemak otot dan respon insulin dan melihat hubungan itu pada orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Tim peneliti membagi para partisipan studi menjadi tiga kelompok yakni mereka yang sarapan sebelum berolahraga, kelompok yang sarapan setelah berolahraga, dan mereka yang tidak membuat perubahan gaya hidup.

Mereka yang berolahraga sebelum sarapan membakar lemak dua kali lebih banyak dari kelompok partisipan yang berolahraga setelah makan dengan jenis makanan yang sama.

Ada alasan sederhana untuk temuan itu adalah ketika orang berpuasa semalaman, mereka memiliki kadar insulin yang lebih rendah selama berolahraga sehingga memungkinkan tubuh mereka untuk menggunakan lebih banyak lemak.

Otot-otot mereka yang berolahraga sebelum sarapan merespons insulin dengan lebih baik dan lebih baik mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh. Otot-otot dari kelompok yang berolahraga sebelum sarapan itu juga menunjukkan peningkatan protein tertentu, terutama yang bertanggung jawab untuk memberikan glukosa ke otot.

Di sisi lain, mereka yang sarapan setelah berolahraga tidak lebih baik dalam hal respons insulin setelah makan daripada kelompok yang berolahraga sebelum sarapan.

Hanya saja, studi itu melibatkan laki-laki sehingga peneliti menilai perlunya penelitian lebih lanjut yang menyertakan para wanita.

Topik berita Terkait:
  1. Kesehatan
  2. Obesitas
Berikan Komentar
Komentar Pembaca